Tuhan,
seandainya saja aku mampu terbang ke langit
tentu sudah kulakukan sejak dahulu
namun Tuhan,
aku tak tahu kemana arah tujuanku
saat fajar menyingsing dulu
aku sibuk mengumpulkan embun dalam cawan
dan menghirup segarnya
sehingga kulupa bahwa embun akan lenyap dalam sesaat
perlahan sang mentari naik
walau belum sampai ia di puncak
panasnya mulai menghabisi embun yang ada di dalam
cawan
dan belum lagi siang
embunku habis!
aku mengamuk, menangis menjerit-jerit
merasa ketidakadilan menggerogotiku,
menghabisi semua embun yang susah payah kukumpulkan
pagi tadi
aku berlari ke sana ke mari
mencari pertolongan dari mereka yang masih memiliki
setetes embun ‘tuk pelepas dahaga ini
namun yang kutemui
hanya pintu-pintu kokoh tertutup rapat, tergembok rapi
Ya Tuhan,
panasnya mentari begitu menyengat
dan tak ada pintu yang menyilakan aku masuk
‘tuk berteduh barang sejenak
sombongnya aku tak sesombong mereka yang menolakku
angkuhnya aku tak seangkuh mereka yg hanya mampu
merasa kasihan padaku
panasnya mentari siang ini
tlah mematikan langkahku,
mengacaukan urat syarafku
Tuhan,
haruskah aku menanti mentari terbenam
bersama nyeri yang kupanggul sendiri?
-28.02.2001-
Note: Puisi ini diperuntukkan untuk saudara2ku yang
berada dalam kamp2 pengungsian yang hingga hari ini
nasibnya masih tidak menentu…