Thursday, November 23, 2006

Bulan Takkan Menangis

Mungkinkah bulan akan kesepian?
Sementara bintang-bintang selalu mengawal setia
menemani dengan kerlipan genit
meski tanpa kata
tanpa suara

Bulan pun takkan menangis
meski seribu tombak menghujam
meninggalkan sejuta luka di sekujur raga
dia tetap tegar di atas sana
hingga maut menjemputnya…

25.5.2003

Posted by speciola at 02:35:15 | Permalink | No Comments »

Mencuri Cinta

apa yang akan kau lakukan, kasihku?
masih inginkah kau curi hatiku?
mungkin rindumu hanya sepenggalan
tapi cintaku untuk selamanya…

23.5.2003

Posted by speciola at 02:34:05 | Permalink | No Comments »

Hanya satu kata saja

:untuk cinta

cinta
seharusnya bisa menyatukan jiwa
seharusnya bisa merendam dendam yang membara
seharusnya bisa melarutkan amarah yang ada
seharusnya…
ah,
semua tinggal teori saja

aku punya cinta
tapi aku tak tahu lagi apakah akan ada manfaatnya
aku membagi cinta
tapi aku tak tahu mungkinkah orang mau menerimanya

satu problema selesai
diganti dengan yang baru
satu cinta hilang
entah apakah masih ada gantinya
mungkin ada
walau bentuknya berbeda

cinta
ah, lagi-lagi tentang cinta
satu kata yang membuat manusia menderita dan bahagia

Jakarta, 8 November 2000

Posted by speciola at 02:24:28 | Permalink | No Comments »

Persembahan Khusus Untuk Cinta

melati yang mekar pagi ini
ada embun di atasnya
yang kemudian jatuh ke bumi
diserap untuk menyegarkan permukaannya

cinta yang bersemi di hati ini
ada berjuta harapan di atasnya
yang kemudian jatuh ke jiwa
diserap untuk menyegarkannya
sehingga jiwa akan selalu tersenyum menantang dunia

cinta ini
yang kupersembahkan untuk kekasih
dengan janji
tak kan pernah kubagi dengan lain hati

7 Des 2000

Posted by speciola at 02:23:47 | Permalink | No Comments »

Seperti Cinta

seperti cinta
yang turun dari langit berlapis tujuh
untuk membahagiakan manusia

seperti cinta
yang turun ke bumi
yang akhirnya membuat manusia berurai air mata

laksana cinta
pemberian Allah yang Maha Kuasa
agar manusia berpikir
untuk apa ia hidup di dunia

10 Peb 2001

Posted by speciola at 02:23:02 | Permalink | No Comments »

Kugadaikan Negeriku

pagi bisu
setelah badai menghantam semalaman
dan menghanyutkan ribuan dosa negeriku

bisakah itu terjadi?
rasanya tidak mungkin!

aib yang sudah mendarah daging
menyebar di setiap pembuluh darah
merasuk ke jantung
sampai akhirnya…
mati!

katanya, negeri ini ibarat bayi yang baru belajar
berjalan
kadang jatuh
berdiri pun tiada sempurna

katanya, semua itu hanya bagian dari pembelajaran.
namun aku sendiri bingung apa yang dipelajari
tak ada yang didapat
hanya dosa dan dosa lagi

katanya… katanya… katanya…

tidak ada komentar yang bisa dipercaya
tidak ada fatwa yang bisa diteladani
gila!
semua hanya bisa berkata, “Katanya!”
cih!
kemana akan kau bawa negeri ini?
apa ia akan kau jual? atau mungkin ingin kau gadaikan?
atau mungkin kau lebih suka menyaksikan
isi perutmu keluar mengotori setiap sudut jalan di
kota
sambil mendendangkan lagu perdamaian
dan sekali lagi kau berkata, “Katanya…”

15 Peb 2001

Posted by speciola at 02:22:32 | Permalink | No Comments »

Haruskah aku menanti mentari terbenam?

Tuhan,
seandainya saja aku mampu terbang ke langit
tentu sudah kulakukan sejak dahulu
namun Tuhan,
aku tak tahu kemana arah tujuanku

saat fajar menyingsing dulu
aku sibuk mengumpulkan embun dalam cawan
dan menghirup segarnya
sehingga kulupa bahwa embun akan lenyap dalam sesaat

perlahan sang mentari naik
walau belum sampai ia di puncak
panasnya mulai menghabisi embun yang ada di dalam
cawan
dan belum lagi siang
embunku habis!

aku mengamuk, menangis menjerit-jerit
merasa ketidakadilan menggerogotiku,
menghabisi semua embun yang susah payah kukumpulkan
pagi tadi

aku berlari ke sana ke mari
mencari pertolongan dari mereka yang masih memiliki
setetes embun ‘tuk pelepas dahaga ini
namun yang kutemui
hanya pintu-pintu kokoh tertutup rapat, tergembok rapi

Ya Tuhan,
panasnya mentari begitu menyengat
dan tak ada pintu yang menyilakan aku masuk
‘tuk berteduh barang sejenak

sombongnya aku tak sesombong mereka yang menolakku
angkuhnya aku tak seangkuh mereka yg hanya mampu
merasa kasihan padaku

panasnya mentari siang ini
tlah mematikan langkahku,
mengacaukan urat syarafku

Tuhan,
haruskah aku menanti mentari terbenam
bersama nyeri yang kupanggul sendiri?

-28.02.2001-

Note: Puisi ini diperuntukkan untuk saudara2ku yang
berada dalam kamp2 pengungsian yang hingga hari ini
nasibnya masih tidak menentu…

Posted by speciola at 02:21:46 | Permalink | No Comments »

Untuk Cinta di Segala Masa

ref: Sajak Cinta Ibnu HS

Kubur akan selamanya sepi
hanya ada angin dan serangga
yang silih berganti bernyanyi-nyanyi
Ada sisa cinta di sana
yang tak pernah padam
walau jasad telah lama diam

Airmata yang jatuh di atas kubur
menjadi saksi
atas semua hasrat dan asa
Satu kalimat tergores di sana
Ternyata, tak harus bermimpi
‘tuk dapat menari bersama pelangi

Untuk cinta di segala masa
seharusnya dapat membangkitkan hati
terus berjuang meraih bintang
Untuk cinta dengan sejuta asa
semestinya dapat meluruhkan kebekuan penjara
buka mata ‘tuk menikmati indahnya dunia

22.3.2001

Posted by speciola at 02:20:53 | Permalink | No Comments »

Hingga Kami Jadi Debu

samudra tak selamanya dalam
lautan bisu perlahan akan menelan korban
nyawa-nyawa tak bernama hilang
tanpa kesan,
tanpa lukisan

seorang anak merangkap dalam gelap
tangisnya pedih, menyayat
tubuhnya penuh luka,
perih dimana-mana
suara-suara serak berusaha berteriak
namun tak satu pun mau mendengarkan

ibu,
aku ini anakmu
suka atau tidak harus kau terima itu
ayah,
aku ini putramu
walau kau benci aku
aku punya hak untuk hidup dan meraih mimpi-mimpiku

di sini kami tumbuh
di negeri ini kami besar
tapi,
anak-anak negeri ini pula yang menghancurkan kami
satu-satu
hingga kami jadi debu

samudra tak selamanya diam
jika masanya datang,
ombak bergulung-gulung menghantam
menelan semua yang ada di hadapan

ingatlah akan hal itu ibu
jangan kau lupakan, wahai ayah
kalau samudra takkan selamanya diam

jakarta, 17 Mei 2001

Posted by speciola at 02:19:36 | Permalink | No Comments »

Selamat Pagi Cinta!

Selamat pagi burung kenari
Terima kasih untuk nyanyian indahmu
mungkin esok kau masih sudi bernyanyi
dan akan kutemani mendendang sebuah lagu
tentang sebuah kisah cinta
antara aku dan kekasihku

Selamat pagi bunga matahari
cantik rupamu hanya sekejap
bak perempuan yang merambah tua
hilang rupa berganti keriput
perlahan terlupa oleh dunia
kalau dia pernah terpampang di billboard tengah kota

Selamat pagi cinta
entah berapa lama lagi kita kan selalu berdua
berbagi cerita, tawa dan amarah
melewati aral dan kisah-kisah
memegang teguh satu janji hingga nyawa terpisah dari
jasadnya
menjadi bijak dan tua bersama

5 Maret 2002

Posted by speciola at 02:17:42 | Permalink | Comments (1) »